Selasa, 30 April 2013

Dilema Si Abang Sopir dan Kenek Bus Mayasari 117

Pagi ini seperti biasanya aku menunggu Bus 117 dari Pulo Gadung menuju Pasar Rebo dimana tujuan akhirnya adalah BSD Tangerang.
Namun ada yang berbeda pagi ini yaitu busnya sepi dong.... Padahal biasanya saat aku naik sudah terisi separuh dari bus berkapasitas 55 orang yang terkadang masih suka dijejalin dengan orang yang berdiri di sepanjang lorong antar kursi hingga tak ada tempat kosong bahkan untuk berdiri pun.
Inilah kenyataan yang harus diterima para penumpang dimana bus boleh patas AC namun berhubung diisi hingga penuh sesak maka air conditionernya kadang menjadi tidak berasa.
Bahkan pernah 1 kali saat stop di UKI berhubung banyak sekali yang mau naik maka ada polantas yang mengetuk kasar pintu abang sopir dan bilang "wei pak, sudah cukup, kalo sudah penuh ya sudah. Ingat ini manusia yang ada di dalamnya" . Untung si Bapak Polantas tidak meneruskan kalimatnya, mungkin maksudnya adalah seperti kandang ayam yang kepenuhan.
Dan ternyata setelah jalan beberapa menit ada seorang Bapak yang menanyakan kenapa si abang kenek yang sedang mengomel "aduh macet mulu, sudah ga ada sewa (penumpang) masih pakai macet pula", dan ternyata si kenek bercerita bahwa baru saja ada penambahan jumlah unit Bus 117 dimana sebelumnya ada 13 bus, sekarang ditambah 7 unit sehingga total menjadi 20 unit.
Dan sekarang waktu keberangkatannya dibuat mepet dari sebelumnya yang tiap 30 menit menjadi setiap 5-10 menit.
Buat aku sebagai penumpang tetap, wah ini sangat menyenangkan sekali karena lama menunggu bus berikutnya jika terlewat menjadi lebih pendek. Dan ternyata yang heran bukan cuman aku melihat isi busnya masih sepi dan bisa mendapat tempat duduk tapi ada 2 ibu-ibu yang tampak bahagia bisa mendapatkan tempat duduk.
Dari sisi penumpang, ini merupakan kabar yang sangat menggembirakan karena waktu tunggu bisa menjadi lebih cepat, namun untuk si abang sopir dan kenek menjadi tidak menyenangkan karena uang setoran mereka mungkin akan berkurang karena selisih dengan bus sebelumnya hanya 15 menit sehingga jumlah penumpang yang biasanya lebih banyak sekarang menjadi lebih sedikit karena terbawa dengan bus-bus sebelumnya.
Jadi bisa dibilang dengan penambahan jumlah unit busnya membawa 2 sisi yaitu positif untuk penumpangnya dan negatif untuk sopir dan keneknya.
Setiap keputusan yang kita ambil pun pasti akan memiliki 2 sisi mata uang baik positif maupun negatif, jadi tinggal dari mana kita mau melihat suatu kasus tersebut.

Rabu, 17 April 2013

Happiness Inside ?

Minggu kemarin dengar ceramah dengan judul " Banyak masalah? dibuat enjoy aja".
Kurang lebih judulnya begitu, walau pembicaranya juga bilang bukan judul yg mudah krn hanya gampang diucapkan sedang untuk prakteknya pasti butuh perjuangan ekstra.
Hari ini disaat hujan deras, badan kedinginan dan masih harus berjuang untuk sampe ke rumah, benar2 merasakan sendiri tiba2 menerima bbm dari seorang yang pernah dekat dan menunjukkan perhatiannya. Oh rasanya menjadi semakin galau dan terasa sakit kalau ingat cerita masa lalu.
Ternyata setelah mandi dan duduk tenang, baru keingat kembali dengan ceramah Minggu bahwa Happiness atau kebahagiaan benar2 ditentukan oleh kita sendiri. Bagaimana cara kita berpikir atau pola pikir kita terhadap suatu masalah atau kejadian.
Dalam hal ini, kita merasa sendiri hanya dengan kondisi hujan, padahal kalau dipikir baik2 banyak juga orang yg basah kuyup keujanan dan kedinginan bahkan gak punya tempat berteduh, lalu mengapa hati ini merasa kita yang paling ngenes? alangkah indahnya jika kita bisa langsung switch penilaian kita bahwa oh hujan pasti enak tidurnya malam ini nih, dan pikiran pun menjadi lebih santai.
Jadi benar adanya bahwa pikiran kita sendirilah yg menentukan apakah kita mau memilih happy atau malah bersedih untuk suatu kondisi yang sama. Untuk kejadian ini sadarnya belakangan sehingga sudah terlanjut kebawa galau. Nah bagaimana supaya kita selalu ingat untuk memutar pola pikirnya menjadi sesuatu yg lebih menyenangkan? jawaban si penceramah waktu itu adalah LATIHAN. Sama seperti anak sekolah yang menghadapi ujian, krn sebelumnya ia serig mengerjakan soal2 latihan maka saat ujian semuanya menjadi lebih mudah karena sudah terbiasa.
Nah sekarang saatnya aku mulai belajar membiasakan diri untuk berpikir akan sesuatu dari sisi yang berbeda sehingga ujungnya atau tujuan akhirnya bisa lebih bahagia lagi dari saat ini.
Amin dan semoga pikiranku bisa terus ke arah yg kutuju.

Rabu, 10 April 2013

Yuk, Tambah Pengetahuan Kita Mengenai OGB ….

Sebagian besar dari kita pasti banyak mendengar OGB atau kepanjangannya Obat Generik Berlogo di apotek saat kita ingin menebus obat. Sebenarnya apa sih Obat Generik itu?
Obat Generik yang sering kita dengar dan gunakan itu adalah obat yang telah habis masa patennya sehingga dapat diproduksi oleh semua perusahaan farmasi tanpa membayar royalti. Untuk obat generik sendiri juga ada 2 jenis yaitu obat generik bermerek dagang dan obat generik berlogo (OGB) yang dipasarkan dengan merek kandungan zat aktifnya.
Dari sisi zat aktifnya (komponen utama obat), antara obat generik baik berlogo mapupun bermerek dagang persis sama dengan obat paten. Namun obat generik lebih murah jika dibandingkan dengan obat yang dipatenkan. Hal ini menyebabkan sebagian besar masyarakat menganggap obat generik adalah obat murah yang diragukan efikasinya / kemanjurannya.
Mengapa OGB (Obat Generik Berlogo) bisa memiliki harga yang lebih murah? Hal ini dikarenakan OGB merupakan program pemerintah Indonesia yang diluncurkan di tahun 1989 dengan tujuan untuk memberikan alternatif obat bagi masyarakat dengan kualitas terjamin, harga terjangkau, serta ketersediaan obat yang cukup. Terkait dengan program pemerintah,maka dilakukan pengawasan secara ketat terutama dalam hal mutu dimana harus sesuai dengan standar yang telah ditetapkan. Selain itu harganya bisa menjadi murah karena tidak adanya biaya promosi baik melalui iklan ataupun presentasi ke dokter dan apotek dimana biaya promosi ini memakan sekitar 40% dari total persentase harga obat. Lalu mengapa kita masih ragu untuk menggunakannya?
Awalnya OGB ini diproduksi untuk memenuhi kebutuhan obat institusi kesehatan pemerintah dan kemudian berkembang ke sektor swasta   karena adanya permintaan dari masyarakat. Kita dapat mengenali OGB ini dari logonya berupa lingkaran hijau bergaris-garis putih dengan tulisan “Generik” di bagian tengah lingkaran. Dimana logo ini menunjukkan bahwa OGB telah lolos uji kualitas, khasiat dan keamanan sedangkan garis-garis putih menunjukkan OGB dapat digunakan oleh berbagai lapisan masyarakat.
Sebagai contoh untuk amoxicillin paten milik salah 1 pabrik farmasi, harga amoxicillin generiknya hanya 10% dari harga obat patennya. Padahal kalau kita teliti ulang isinya atau zat aktifnya adalah sama yaitu amoxicillin dan berfungsi sama sebagai antibiotik. Mungkin bisa juga diinfokan oleh pabrik farmasi penghasil OGB bahwa efektivitas obatnya adalah sama dengan yang paten untuk menambah keyakinan masyarakat dalam menggunakan obat generik.
Dengan ulasan mendetail ini, harusnya keraguan yang ada di benak kita mengenai kualitas obat generik sudah tidak ada lagi. Kita harus yakin bahwa pabrik farmasi yang memproduksi obat generik ini adalah pabrik yang sama dan juga memperoduksi obat paten, sehingga mereka sudah memiliki pengalaman yang sama dalam memproduksi obat berkualitas. Harga obat generik pun lebih terjangkau sehingga dapat digunakan oleh seluruh lapisan masyarakat untuk mewujudkan Indonesia yang lebih sehat lagi. Yuk… kita gunakan obat generik saat menebus obat di apotek, para apoteker yang ada di apotek pasti akan membantu kita untuk mendapatkan penjelasan mengenai obat generik dengan harga obat yang lebih murah. Selamat mencoba…


www.dexa-medica.com