Jumat, 24 Juli 2015

Jangan menikah sebelum tanyakan 15 hal ini pada pasangan!

Merdeka.com - Memutuskan untuk menikah adalah langkah besar bagi kehidupan setiap orang. Menikah merupakan komitmen seumur hidup yang tak bisa dijalani dengan main-main. Semua orang tentu ingin menikah sekali seumur hidup dan bisa langgeng dengan pasangan hingga tua.

Banyak yang sudah menikah dan bertanya-tanya apakah mereka sudah memilih orang yang tepat untuk dijadikan teman hidup. Tentunya tak ada yang ingin menyesal setelah memilih pasangan dan memutuskan menikah. Menurut survei yang dilakukan oleh The New York Times, ada beberapa pertanyaan yang sebaiknya ditanyakan oleh pasangan sebelum memutuskan untuk menikah.

Ini dia beberapa pertanyaan yang sebaiknya didiskusikan oleh pasangan sebelum memutuskan menikah, seperti dilansir oleh Mogul.

1. Pasangan ingin memiliki anak atau tidak? Jika iya, berapa anak yang diinginkan oleh pasangan. Ketika sudah memiliki anak, siapa yang akan menjadi pengasuh utama, atau orang tua akan mengasuh secara bergantian?

2. Kemampuan finansial pasangan dan impian yang ingin dicapai. Apakah ide mengenai pendapatan dan pengeluaran dalam rumah tangga pasangan sudah sesuai satu sama lain, atau ada hal yang berbeda dan perlu disepakati lebih lanjut?

3. Mengenai urusan rumah tangga. Bagaimana urusan rumah tangga diselesaikan, siapa yang bertanggung jawab, atau urusan dan pekerjaan rumah tangga akan dibagi rata? Apakah suami mau mengerjakan pekerjaan rumah tangga seperti mencuci, menyapu, dan lainnya ketika istri tak bisa?

4. Apakah pasangan sudah mengetahui dan saling terbuka mengenai kesehatan fisik dan mental? Pasangan sebaiknya saling jujur mengenai riwayat penyakit, penyakit yang menurun pada keluarga, dan lainnya.

5. Apakah pasangan sudah memberikan kasih sayang dan perhatian seperti yang kalian harapkan?

6. Bagaimana pasangan membahas masalah seksual. Apakah pasangan bisa terbuka dan nyaman untuk berdiskusi masalah kebutuhan seksual, ketakutan, dan hasrat seksual?

7. Bagaimana dengan televisi di tempat tidur? Hal ini terlihat sepele, tetapi televisi di tempat tidur juga bisa mengganggu waktu-waktu intim pasangan dan memicu pertengkaran.

8. Apakah selama ini pasangan sudah saling menghormati dan mendengarkan dengan baik mengenai ide-ide pasangan? Apakah pasangan bisa saling terbuka membicarakan hal yang tidak mereka sukai, protes, atau komplain?

9. Apakah pasangan memiliki nilai-nilai moral yang sama? Bagaimana dengan nilai-nilai keagamaan dan juga mengenai kebutuhan spiritual, dan pendidikan moral untuk anak?

10. Bagaimana hubungan kalian dengan teman-teman pasangan? Apakah kalian menyukainya? Bagaimana sikap pasangan terhadap teman-teman kalian? Apakah ini bisa menimbulkan masalah ke depannya?

11. Bagaimana hubungan pasangan dengan orang tua dan keluarga kalian? Apakah hubungan dengan orang tua bisa menjadi masalah di masa depan?

12. Apa kebiasaan di keluarga masing-masing yang tidak disukai pasangan, atau uneg-uneg pasangan mengenai keluarga kalian? Karena pernikahan bukan hanya antara dua orang, tetapi juga dua keluarga.

13. Apakah ada hal-hal yang harus ditinggalkan untuk pernikahan ini? Misalkan pihak wanita yang harus berhenti bekerja setelah menikah, dan lainnya. Apakah ada hal-hal yang tak siap ditinggalkan saat menikah?

14. Ketika ada kemungkinan tawaran kerja yang jauh dari rumah atau tempat domisili, apakah pasangan mau diajak serta pindah rumah, atau akan menjalani hubungan jarak jauh?

15. Apakah pasangan memiliki kepercayaan pada satu sama lain bahwa mereka bisa menjalani komitmen pernikahan ini selamanya dan yakin bahwa mereka bisa menghadapi berbagai tantangan bersama di masa depan?

Pertanyaan-pertanyaan di atas sebaiknya didiskusikan dan dibicarakan dengan pasangan sebelum melangsungkan pernikahan. Meski terlihat biasa saja, namun pertanyaan di atas membawa isu yang bisa menjadi masalah di masa depan jika tidak ada kesepakatan dan pemahaman yang baik.

Pertanyaan di atas juga bisa membantu pasangan untuk saling berbagi pikiran dan terbuka mengenai perspektif masing-masing. Ketika kesepakatan dan pemahaman sudah dicapai sebelum menikah, tentunya langkah menuju jenjang pernikahan akan menjadi lebih mantap.


Reporter : Kun Sila Ananda | Kamis, 23 Juli 2015 07:08

Senin, 19 Mei 2014

Tulus - Sepatu

Kita adalah sepasang sepatu
Selalu bersama tak bisa bersatu
Kita mati bagai tak berjiwa
Bergerak karena kaki manusia

Aku sang sepatu kanan
Kamu sang sepatu kiri
Ku senang bila diajak berlari kencang
Tapi aku takut kamu kelelahan
Ku tak masalah bila terkena hujan
Tapi aku takut kamu kedinginan

Kita sadar ingin bersama
Tapi tak bisa apa-apa
Terasa lengkap bila kita berdua
Terasa sedih bila kita di rak berbeda
Di dekatmu kotak bagai nirwana
Tapi saling sentuh pun kita tak berdaya

Ku senang bila diajak berlari kencang
Tapi aku takut kamu kelelahan
Ku tak masalah bila terkena hujan
Tapi aku takut kamu kedinginan

Kita sadar ingin bersama
Tapi tak bisa apa-apa
Kita sadar ingin bersama
Tapi tak bisa apa-apa
Terasa lengkap bila kita berdua
Terasa sedih bila kita di rak berbeda
Di dekatmu kotak bagai nirwana
Tapi saling sentuh pun kita tak berdaya

Cinta memang banyak bentuknya
Mungkin tak semua bisa bersatu.


Read more: Tulus - Sepatu Lyrics | MetroLyrics

Kamis, 02 Januari 2014

Happy New Year 2014

Sudah lama sekali tidak menulis dan sunggung kangen dengan momen itu....
Momen saat biasa menulis apa yang ingin dikatakan, dan tak terasa sudah berlalu menjadi tahun yang baru di 2014 ini...

Selamat Tahun baru dan semoga keadaan menjadi jauh lebih baik lagi di tahun yang baru. Selain itu juga dapat mencapai apa yang sudah dicita-citakan di segala bidang.
Kesuksesan akan selalu menyertai disaat kita masih mau berusaha dan pantang menyerah.
Ditambah juga dengan positif thinking sehingga aku akan terus optimis dengan keberhasilan di masa mendatang... Semoga selalu dapat terus mengembangkan diri ke arah yang lebih baik.

Review di tahun 2013 akan menjadi panduan untuk menghadapi tahun 2014 dengan lebih berani lagi.
Terima kasih untuk semua yang terjadi di 2013, Terima kasih banyak....
Semua teman dan keluarga Terima kasih Banyak....
Mari kita berusaha mengisi tahun 2014 dengan sesuatu yang lebih berharga dan menyenangkan.
Terima kasih dan maaf untuk semua kesalahan yang pernah diperbuat.
Love you and keep smiling... 

Selasa, 30 April 2013

Dilema Si Abang Sopir dan Kenek Bus Mayasari 117

Pagi ini seperti biasanya aku menunggu Bus 117 dari Pulo Gadung menuju Pasar Rebo dimana tujuan akhirnya adalah BSD Tangerang.
Namun ada yang berbeda pagi ini yaitu busnya sepi dong.... Padahal biasanya saat aku naik sudah terisi separuh dari bus berkapasitas 55 orang yang terkadang masih suka dijejalin dengan orang yang berdiri di sepanjang lorong antar kursi hingga tak ada tempat kosong bahkan untuk berdiri pun.
Inilah kenyataan yang harus diterima para penumpang dimana bus boleh patas AC namun berhubung diisi hingga penuh sesak maka air conditionernya kadang menjadi tidak berasa.
Bahkan pernah 1 kali saat stop di UKI berhubung banyak sekali yang mau naik maka ada polantas yang mengetuk kasar pintu abang sopir dan bilang "wei pak, sudah cukup, kalo sudah penuh ya sudah. Ingat ini manusia yang ada di dalamnya" . Untung si Bapak Polantas tidak meneruskan kalimatnya, mungkin maksudnya adalah seperti kandang ayam yang kepenuhan.
Dan ternyata setelah jalan beberapa menit ada seorang Bapak yang menanyakan kenapa si abang kenek yang sedang mengomel "aduh macet mulu, sudah ga ada sewa (penumpang) masih pakai macet pula", dan ternyata si kenek bercerita bahwa baru saja ada penambahan jumlah unit Bus 117 dimana sebelumnya ada 13 bus, sekarang ditambah 7 unit sehingga total menjadi 20 unit.
Dan sekarang waktu keberangkatannya dibuat mepet dari sebelumnya yang tiap 30 menit menjadi setiap 5-10 menit.
Buat aku sebagai penumpang tetap, wah ini sangat menyenangkan sekali karena lama menunggu bus berikutnya jika terlewat menjadi lebih pendek. Dan ternyata yang heran bukan cuman aku melihat isi busnya masih sepi dan bisa mendapat tempat duduk tapi ada 2 ibu-ibu yang tampak bahagia bisa mendapatkan tempat duduk.
Dari sisi penumpang, ini merupakan kabar yang sangat menggembirakan karena waktu tunggu bisa menjadi lebih cepat, namun untuk si abang sopir dan kenek menjadi tidak menyenangkan karena uang setoran mereka mungkin akan berkurang karena selisih dengan bus sebelumnya hanya 15 menit sehingga jumlah penumpang yang biasanya lebih banyak sekarang menjadi lebih sedikit karena terbawa dengan bus-bus sebelumnya.
Jadi bisa dibilang dengan penambahan jumlah unit busnya membawa 2 sisi yaitu positif untuk penumpangnya dan negatif untuk sopir dan keneknya.
Setiap keputusan yang kita ambil pun pasti akan memiliki 2 sisi mata uang baik positif maupun negatif, jadi tinggal dari mana kita mau melihat suatu kasus tersebut.

Rabu, 17 April 2013

Happiness Inside ?

Minggu kemarin dengar ceramah dengan judul " Banyak masalah? dibuat enjoy aja".
Kurang lebih judulnya begitu, walau pembicaranya juga bilang bukan judul yg mudah krn hanya gampang diucapkan sedang untuk prakteknya pasti butuh perjuangan ekstra.
Hari ini disaat hujan deras, badan kedinginan dan masih harus berjuang untuk sampe ke rumah, benar2 merasakan sendiri tiba2 menerima bbm dari seorang yang pernah dekat dan menunjukkan perhatiannya. Oh rasanya menjadi semakin galau dan terasa sakit kalau ingat cerita masa lalu.
Ternyata setelah mandi dan duduk tenang, baru keingat kembali dengan ceramah Minggu bahwa Happiness atau kebahagiaan benar2 ditentukan oleh kita sendiri. Bagaimana cara kita berpikir atau pola pikir kita terhadap suatu masalah atau kejadian.
Dalam hal ini, kita merasa sendiri hanya dengan kondisi hujan, padahal kalau dipikir baik2 banyak juga orang yg basah kuyup keujanan dan kedinginan bahkan gak punya tempat berteduh, lalu mengapa hati ini merasa kita yang paling ngenes? alangkah indahnya jika kita bisa langsung switch penilaian kita bahwa oh hujan pasti enak tidurnya malam ini nih, dan pikiran pun menjadi lebih santai.
Jadi benar adanya bahwa pikiran kita sendirilah yg menentukan apakah kita mau memilih happy atau malah bersedih untuk suatu kondisi yang sama. Untuk kejadian ini sadarnya belakangan sehingga sudah terlanjut kebawa galau. Nah bagaimana supaya kita selalu ingat untuk memutar pola pikirnya menjadi sesuatu yg lebih menyenangkan? jawaban si penceramah waktu itu adalah LATIHAN. Sama seperti anak sekolah yang menghadapi ujian, krn sebelumnya ia serig mengerjakan soal2 latihan maka saat ujian semuanya menjadi lebih mudah karena sudah terbiasa.
Nah sekarang saatnya aku mulai belajar membiasakan diri untuk berpikir akan sesuatu dari sisi yang berbeda sehingga ujungnya atau tujuan akhirnya bisa lebih bahagia lagi dari saat ini.
Amin dan semoga pikiranku bisa terus ke arah yg kutuju.

Rabu, 10 April 2013

Yuk, Tambah Pengetahuan Kita Mengenai OGB ….

Sebagian besar dari kita pasti banyak mendengar OGB atau kepanjangannya Obat Generik Berlogo di apotek saat kita ingin menebus obat. Sebenarnya apa sih Obat Generik itu?
Obat Generik yang sering kita dengar dan gunakan itu adalah obat yang telah habis masa patennya sehingga dapat diproduksi oleh semua perusahaan farmasi tanpa membayar royalti. Untuk obat generik sendiri juga ada 2 jenis yaitu obat generik bermerek dagang dan obat generik berlogo (OGB) yang dipasarkan dengan merek kandungan zat aktifnya.
Dari sisi zat aktifnya (komponen utama obat), antara obat generik baik berlogo mapupun bermerek dagang persis sama dengan obat paten. Namun obat generik lebih murah jika dibandingkan dengan obat yang dipatenkan. Hal ini menyebabkan sebagian besar masyarakat menganggap obat generik adalah obat murah yang diragukan efikasinya / kemanjurannya.
Mengapa OGB (Obat Generik Berlogo) bisa memiliki harga yang lebih murah? Hal ini dikarenakan OGB merupakan program pemerintah Indonesia yang diluncurkan di tahun 1989 dengan tujuan untuk memberikan alternatif obat bagi masyarakat dengan kualitas terjamin, harga terjangkau, serta ketersediaan obat yang cukup. Terkait dengan program pemerintah,maka dilakukan pengawasan secara ketat terutama dalam hal mutu dimana harus sesuai dengan standar yang telah ditetapkan. Selain itu harganya bisa menjadi murah karena tidak adanya biaya promosi baik melalui iklan ataupun presentasi ke dokter dan apotek dimana biaya promosi ini memakan sekitar 40% dari total persentase harga obat. Lalu mengapa kita masih ragu untuk menggunakannya?
Awalnya OGB ini diproduksi untuk memenuhi kebutuhan obat institusi kesehatan pemerintah dan kemudian berkembang ke sektor swasta   karena adanya permintaan dari masyarakat. Kita dapat mengenali OGB ini dari logonya berupa lingkaran hijau bergaris-garis putih dengan tulisan “Generik” di bagian tengah lingkaran. Dimana logo ini menunjukkan bahwa OGB telah lolos uji kualitas, khasiat dan keamanan sedangkan garis-garis putih menunjukkan OGB dapat digunakan oleh berbagai lapisan masyarakat.
Sebagai contoh untuk amoxicillin paten milik salah 1 pabrik farmasi, harga amoxicillin generiknya hanya 10% dari harga obat patennya. Padahal kalau kita teliti ulang isinya atau zat aktifnya adalah sama yaitu amoxicillin dan berfungsi sama sebagai antibiotik. Mungkin bisa juga diinfokan oleh pabrik farmasi penghasil OGB bahwa efektivitas obatnya adalah sama dengan yang paten untuk menambah keyakinan masyarakat dalam menggunakan obat generik.
Dengan ulasan mendetail ini, harusnya keraguan yang ada di benak kita mengenai kualitas obat generik sudah tidak ada lagi. Kita harus yakin bahwa pabrik farmasi yang memproduksi obat generik ini adalah pabrik yang sama dan juga memperoduksi obat paten, sehingga mereka sudah memiliki pengalaman yang sama dalam memproduksi obat berkualitas. Harga obat generik pun lebih terjangkau sehingga dapat digunakan oleh seluruh lapisan masyarakat untuk mewujudkan Indonesia yang lebih sehat lagi. Yuk… kita gunakan obat generik saat menebus obat di apotek, para apoteker yang ada di apotek pasti akan membantu kita untuk mendapatkan penjelasan mengenai obat generik dengan harga obat yang lebih murah. Selamat mencoba…


www.dexa-medica.com

Selasa, 26 Maret 2013

TERBANG BERSAMA KEHENINGAN

BERAT, itulah kata yang bisa mewakili tantangan hidup kekinian. Orang miskin dihadang penyakit di sana-sini. Orang kaya alisnya dibikin berkerut oleh berbagai masalah. Sebagian malah sudah dipenjara, sebagian lagi menuggu giliran untuk beristirahat di tempat yang sama. Manusia biasa menggendong berbagai beban ke sana ke mari (dari mencari nafkah, menyekolahkan anak sampai dengan mempersiapkan hari tua), pejabat maupun pengusaha juga serupa: senantiasa ditemani masalah kemanapun ia pergi. Di desa banyak orang mengeluh, luas tanah tetap namun jumlah manusia senantiasa tambah banyak. Sehingga setiap
tahun memunculkan tantangan penciptaan lapangan kerja. Bila tidak terselesaikan ia bisa lari kemana-mana. Dari kejahatan sampai dengan kekerasan.

Digabung menjadi satu, jadilah kehidupan berwajah serba berat di sana-sini. Tidak saja di negara berkembang, di negara maju sekali pun tantangannya serupa. Kemajuan ekonomi Jepang yang demikian fantastis tidak bisa mengerem angka bunuh diri. Kemajuan peradaban Amerika tidak membuat negara ini berhenti menjadi konsumen obat tidur per kapita paling tinggi di dunia. Jangankan berbicara negeri Afrika seperti Botswana. Rata-rata harapan hidup hanya 30-an tahun.
Orang dewasa di sana lebih dari 80 persen positif terjangkit HIV. Sehingga
menimbulkan pertanyaan, "Demikian beratkah beban manusia untuk hidup?"

Ada sahabat yang menghubungkan beratnya hidup manusia dengan hukum gravitasinya Newton yang berpengaruh itu. Sudah menjadi pengetahuan publik, kalau Newton menemukan hukum ini ketika duduk di bawah pohon apel, dan tiba-tiba buahnya jatuh.

Sehingga Newton muda berspekulasi ketika itu, ada serangkaian hukum berat (baca: gravitasi) yang membuat semua benda jatuh ke bawah. Sahabat ini bertanya lebih dalam, "kalau gravitasi yang menarik apel jatuh ke bawah, lantas hukum apa yang membawanya naik ke puncak pohon apel?"
Dengan jernih ia menyebut "The law of levitation" (hukum penguapan). Kalau gravitasi menarik apel ke bawah, penguapan menariknya ke arah atas.

Dalam bahasa yang lugas sekaligus cerdas, sahabat ini mengaitkan kedua hukum fisika ini ke dalam dua hukum kehidupan: "Hate is under the law of gravity, love is under the law of levitation."
Kebencian berkait erat dengan gravitasi karena mudah sekali membuat manusia hidup serba berat dan ditarik ke bawah. Cinta berkaitan dengan gerakan-gerakan ke atas. Karena hanya cinta yang membuat manusia ringan dan terbang ke atas. Sungguh sebuah bahan renungan kehidupan yang cerdas dan bernas.

Kembali ke soal hidup manusia yang serba berat, tidak ada manusia yang bebas sepenuhnya dari masalah. Bahkan ada yang menyederhanakan kehidupan dengan sebuah kata: penderitaan! Hanya saja kebencian berlebihan yang membuat semua ini menjadi semakin berat dan semakin berat lagi. Ada yang benci pada diri sendiri, ada yang membenci orang tua, suami, istri, teman, tetangga, atasan kerja, sampai dengan ada yang membenci Tuhan.

Perhatikan wajah-wajah manusia kekinian yang miskin senyum, yang mudah tersinggung, yang senantiasa minta diperhatikan, penerimaan bulanan yang serba kurang, dan masih bisa ditambah lagi dengan yang lain. Semuanya berakar pada yang satu: kebencian! Sehingga mudah dimengerti kalau perjalanan hidup seperti buah apel, semakin tua semakin berat dan semakin ditarik ke bawah.

Terinspirasi dari sinilah, kemudian sejumlah guru mengurangi sesedikit mungkin berjalan dalam hidup dengan beban-beban kebencian. Dan mencoba menarik kehidupan ke atas menggunakan sayap-sayap cinta. Semua perjalanan cinta mulai dari sini: mencintai kehidupan. Makanya sahabat-sahabat penekun meditasi Vipasana berkonsentrasi pada keluar masuknya nafas. Tidak saja karena membuat manusia mudah terhubung dengan hidup, tetapi berpelukan penuh cinta dengan kehidupan. Dan segelintir penekun Vipasana yang telah berjalan amat jauh, kemudian mengalami cosmic orgasm. Semacam orgasme kosmik yang ditandai oleh terlihatnya keindahan di mana-mana. Karena semuanya terlihat serba indah, tidak ada lagi dorongan untuk mencari jawaban. Bahkan pertanyaan sekalipun sudah lenyap dari kepala. Ini yang disebut seorang guru dengan terbang bersama keheningan.

Ada yang menyebut ini dengan emptiness. Sebuah terminologi timur yang amat susah untuk dijelaskan dengan kata-kata manusia.
Namun Dainin Katagiri dalam Returning to Silence, menyebutkan: "The final goal is that we should not be obsessed with the result, whether good, bad or neutral." Keseluruhan upaya untuk tidak terikat dengan hasil. Itulah keheningan. Sehingga yang tersisa persis seperti hukum alam: kerja, kerja dan kerja. Dalam kerja seperti ini, manusia seperti matahari. Ditunggu tidak ditunggu, besok pagi ia terbit. Ada awan tidak ada awan, matahari tetap bersinar. Disukai atau dibenci, sore hari dimana pun ia akan terbenam.

Mirip dengan matahari yang tugasnya berbeda dengan awan dan bintang. Kita manusia juga serupa. Pengusaha bekerja di perusahaan. Penguasa bekerja di pemerintahan. Pekerja bekerja di tempat masing-masing. Penulis menulis. Pertapa bertapa. Pencinta yoga beryoga. Pengagum meditasi bermeditasi. Semuanya ada tempatnya masing-masing. Ada satu hal yang sama di antara mereka: "Menjadi semakin sempurna di jalan kerja". Soal hasil, sudah ada kekuatan amat sempurna yang sudah mengaturnya. Keinginan apalagi kebencian, hanya akan membuatnya jadi berat dan terlempar ke bawah.


oleh Gede Prama